Surip Mawardi dan Petani Kopi Indonesia

Surip Mawardi terdiam sejenak lalu melempar senyum ketika ditanya apa tantangan terberatnya ketika membina petani. Sebagai peneliti utama di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao – Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (Puslit Koka – ICCRI) Jember, ia memang kerap terjun ke petani untuk melakukan pembinaan.

Tujuannya, agar kualitas kopi Indonesia semakin baik dan dihargai lebih tinggi di pasar kopi dunia. Namun, upaya itu tak berjalan mulus-mulus saja. Meski sebenarnya ia ingin membuat “pipi petani ikut mengkilap”, ia mengaku sering dimarahi petani. Lho, kenapa?

SuripMawardi-1

Surip Mawardi (baju biru gelap)

SuripMawardi-3

SuripMawardi-4

SuripMawardi-5

“Kalau dimarahi petani, saya itu sudah biasa,” ujar Surip pada satu kesempatan bincang-bincang seputar kopi di kedai kopi Repvblik Kopi di Jalan Pemuda, Medan akhir pekan lalu bersama Kopibrik.com, pemilik kedai kopi Repvblik Kopi Salimin Djohan, Joko Triyono dari Bank Indonesia Denpasar beserta petani kopi Kintamani Bali Made Rida dan seorang rekannya.

Ditemani kopi Lintong, obrolan kopi malam itu cukup santai. Peneliti utama bidang pemuliaan tanaman komoditas kopi bergelar doktor dan sudah 40 tahun terjun ke dunia kopi itu bercerita, ketika terjun langsung ke petani, pada awal-awalnya acap kali ia menerima kritikan bahkan ledekan.

“Sering petani marah-marah, bilang,” Kami ini bukan kelinci percobaan, jadi bahan penelitian”. Padahal, tujuan kita sebenarnya bukan itu, melainkan bagaimana agar kualitas kopi Indonesia semakin bagus, yang pada akhirnya akan mensejahterakan petani juga,” kata Surip.

Karena itu, kata Surip, saat terjun membina petani di lapangan, ia tidak boleh memposisikan petani sebagai objek melainkan sebagai subjek. Menurut Surip, sebagai peneliti kopi, ia tak cukup hanya berada di dalam ruangan penelitian. Tapi harus terjun ke petani.

“Kalau tidak langsung ke petani, bagaimana kita mau tahu apa masalah yang sedang mereka hadapi,” katanya. Dari masalah itu barulah dicari solusi yang tepat untuk petani.

Namun, untuk menghadapi petani bukanlah perkara mudah, dibutuhkan kesabaran ekstra, kemampuan beradaptasi—dalam hal ini harus juga mampu mengenali karakter budaya dalam satu daerah pertanian kopi.

Surip mengenang ketika ia terjun langsung membina petani kopi di Bajawa, Flores. Sebelum langsung bersentuhan kepada petani, ia terlebih dahulu mempelajari kehidupan, adat istiadat dan budaya masyarakat Bajawa.

“Saya mempelajari budaya Bajawa melalui sebuah buku yang diberikan seorang pastor Katolik. Selama 4 tahun saya mempelajarinya sebelum terjun langsung ke petani,” katanya. pendekatan menjadi sangat perlu melihat satu persoalan terbesar yang dihadapi petani ialah karakter. Pola pikir (mindset) petani yang harus diubah sebelum memberikan pembinaan.

“Awalnya petani tak peduli apa itu specialty coffee, apa itu acidity, defect dan lain sebagainya. Mereka kerap acuh pada proses, sehingga harga kopi mereka selalu rendah di pasaran,” kata Surip.

Upaya pembinaan itu memang membuahkan hasil. Surip mengatakan, dari awalnya kopi Bajawa tidak dikenal di pasar dunia, setidaknya sampai kini sudah 250 ton kopi dari Bajawa yang sudah diekspor ke pasar Amerika dan Eropa. Rata-rata produksi 10 kontainer dalam 2 minggu.

Surip juga memahami bahwa latar belakang petani memberi banyak pengaruh pada kualitas kopi. Ia memberi contoh saat meneliti kopi di wilayah Tapanuli beberapa tahun lalu. Melihat tidak sedikit petani yang berada di garis kemiskinan, kurang modal, kebutuhan akan uang dalam jangka pendek dan masih adanya petani yang tidak punya lahan sendiri, Surip bersama timnya akhirnya mencoba menghasilkan satu varietas yang cocok ditanam petani.

Maka, lahirlah kopi Sigarar Utang, yang sampai kini menjadi sebutan untuk kopi arabica ateng bagi petani di wilayan Tapanuli, meliputi Lintong Ni Huta, Dolok Sanggul, juga wilayah penghasil kopi di Simalungun dan belakangan Sidikalang, yang dulunya menanam kopi Robusta. “Kopi Sigarar Utang itu (dihasilkan) setelah penelitian 6 tahun,” kata Surip.

Pembinaan yang sama juga dilakukan dengan petani kopi Kintamani, Bali. Menurut Surip, Kintamani punya lahan yang potensial, namun dalam waktu lama kopi ini tidak dikenal karena kualitasnya yang tidak mampu bersaing di pasar dunia. Tahun 2000 Surip melakukan sosialisasi dan sejak tahun 2005 petani sudah dapat melakukan proses pasca panen yang benar .

Salimin Djohan berpendapat, pembinaan kepada petani seperti dilakukan di beberapa daerah penghasil kopi di beberapa daerah di Indonesia, perlu dilakukan di Sumatra Utara, mengingat daerah ini sejak lama telah dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbaik di dunia.

“Mungkin perlu dilakukan hal sama, seperti dilakukan Pak Surip di Kintamani yang bekerjasama dengan Bank Indonesia sebagai pendamping, yang membantu dalam hal permodalan,” katanya.

Tidak hanya pembinaan pada proses tanam dan pasca panen, petani juga nantinya juga dibina dalam hal pemasaran. Pada akhirnya nanti akan mampu mengangkat kesejahteraan petani.

“Dampaknya juga akan terasa kepada pengusaha kedai kopi seperti saya, nanti tidak lagi sulit mendapatkan kopi kualitas terbaik karena semua petani sudah melakukan proses yang sama,” kata Djohan.

Made Rida, salah satu petani kopi Kintamani yang bergabung dalam kelompok tani (subak) Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli mengaku merasakan adanya dampak pembenahaan yang dilakukan sejak tahun 2000.

“Dengan kualitas yang lebih baik, sekarang kita dapat menjual kopi dengan harga yang lebih stabil,” katanya. dijelaskannya, sejak tahun 2000 Surip telah melakukan sosialisasi di Kintamani, kemudian berlanjut hingga tahun 2005. “Sekarang pak Surip sudah mulai melepas karena rata-rata petani sudah melakukan proses yang seperti diajari Pak Surip selama ini,” katanya.

Surip sendiri punya keinginan untuk melakukan pembenahan yang sama kepada petani kopi di Sumut. Memang kopi dari Sumut sudah dikenal punya nama di dunia, namun ia melihat Sumut masih jauh tertinggal dalam hal penerapan teknologi budidaya kopi. Bila dilakukan pembinaan lebih intensif, maka kuantitas produksi kopi terbaik dari provinsi ini akan semakin melimpah.

Surip mengatakan, setidaknya ia butuh waktu lima tahun untuk melakukan penelitian dan pembinaan di Sumut. “Setahun itu untuk dimarahi petani sudah terbilang singkat. Makanya setidaknya dibutuhkan waktu lima tahun,” katanya.

Yang pasti, tujuan penelitian dan pembinaan itu, tidak ada yang lain selain menerapkan budidaya kopi yang baik kepada petani. Setidaknya, juga akan terjalin kerjasama yang saling menguntungkan antara eksportir dan petani.

“Jangan terus-menerus seperti dalam istilah orang Jawa,”Kalau pengusaha itu pipinya yang mengkilap, tapi kalau petani punggungnya yang mengkilap. Kalau bisa petani jangan selamanya begitu,” katanya.

Liputan Khusus Kopi Sidikalang (Bag. 1)

[arsip Februari 2007]: Dalam kancah perkopian nasional bahkan internasional, predikat Kopi Sidikalang pernah mencapai masa keemasan. Tak heran pula bahwa kenikmatan kopi robusta itu bahkan pernah secara ekonomis mengangkat harkat masyarakat Dairi sendiri. Tapi, kini kopi robusta nyaris tenggelam akibat gelombang pasar yang tidak menjamin lagi. Akibatnya, petani beralih ke tanaman kopi jenis arabika yang lebih mengutungkan, tapi kualitas beda.

Fenomena peralihan dari robusta ke arabika sejak dekade terakhir sudah mulai menjamur di kalangan petani kopi Dairi. Menurut beberapa petani dan kalangan pengusaha, peralihan itu terjadi robusta tak lagi mampu mengangkat martabat mereka, singkatnya secara ekonomis tidak menguntungkan lagi.

kopi sidikalang 015Sejarah yang tertuang secara lisan di antara masyarakat Dairi mencatat bahwa robusta pernah memakmurkan petani Dairi. Bahkan, ada anekdot yang beredar di kalangan luar daerah Dairi yang mengatakan, “petani kopi Dairi akan mencuci tangannya dengan minuman bir manakala mereka ingin makan.” Kenyataannya, mereka pernah mengecap masa kejayaan dari robusta. Dulu!

Tapi, waktu pula yang membuat segalanya berubah. Seperti yang dikatakan beberapa pengusaha kopi, pengoplosan yang sering dilakukan oknum-oknum tertentu telah merusak pasar ekpor kopi robusta. Pengoplosan yang di kemudian hari drastis mengecewakan konsumen itu dilakukan dengan cara mencampur bubuk kopi robusta dengan bahan lain yang mengakibatkan mutu dan rasanya berobah pula alias anjlok. Akibatnya, harganya pun ikut anjlok.

Otomatis, peristiwa yang hanya menguntungkan sepihak itu, berimbas kepada petani sendiri bahwa pada prinsipya mereka hanya akan menanam komoditi tertentu jika mampu memberikan keuntungan. Nyatanya, robusta nyaris tidak lagi mampu melakukannya. Dan alhasil, dengan terpaksa petani beralih ke jenis lain, yaitu arabika.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi terlihat pergeseran luas lahan produksi dan jumlah volume produksi yang drastis mengalami penurunan. Tercatat bahwa pada tahun 1996 produksi kopi jenis robusta mencapai sekitar 7.941 ton dengan luas lahan 16.524 hektar. Sangat berbeda halnya dengan kopi jenis arabika yang jumlah produksinya hanya sekitar 1.061 ton dengan luas lahan 3.103 hektar.

Angka produksi itu kemudian mulai bergeser signifikan ke tahun-tahun berikutnya hingga pada tahun 2003 terlihat angka yang mencolok. Tercatat bahwa pada tahun 2003 jumlah produksi kopi arabika meningkat menjadi 9.442 ton dengan luas lahan produksi 9.373 hektar, sedang kopi robusta 6.790 ton dengan luas lahan 12.702 hektar.

Jumlah ini terus bergeser, hingga akhirnya bedasarkan pendataan BPS pada tahun 2006 bahwa pada tahun 2005 tercatat jumlah produski robusta yang jauh drastis menurun hingga hanya mencapai 2.776 ton saja dengan luas lahan produksi 11.154 hektar. Sebaliknya, arabika drastis naik hingga mampu mengimbangi robusta. Sedang sebaliknya tercatat jumlah produksi kopi jenis arabika naik drastis menjadi sekitar 7.698 ton dengan luas lahan “hanya” 9.846 hektar. (bag. 2)

Gani Silaban dan Kopi Lintong

Gani Silaban-kopibrik-humbangorganik

Suatu malam sebelum tidur saya mengungkap-ungkap halaman demi halaman buku karya fotografer potret Indonesia, Edward Tigor Siahaan, berjudul Batak Inspigraph. Ini adalah buku yang menampilkan potret-potret orang Batak inspiratif. Ternyata narasumber saya mengenai kopi yang baru saja saya wawancarai belum lama ini terdapat di buku setebal 354 halaman itu. Dia adalah Gani Silaban, petani kopi yang selama beberapa tahu ini mendapat perhatian publik karena inisiatif dan upayanya mengangkat Kopi Lintong dari Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Humbang Hasundutan. [Read more...]

Liputan Khusus Kopi Sidikalang (Bag. 3)

[arsip Februari 2007]: “Sigarar utang”. Di kalangan petani kopi Sidikalang, Dairi, kopi jenis arabika disebut juga sebagai kopi ateng atau kopi “si garar utang”(si bayar utang). Pemberian nama ini dapat dikatakan merupakan cerminan kebiasaan petani kopi yang menunggu hasil kopi atengnya untuk membayar utang.

kopi sidikalang 015Memang, kopi arabika lebih cepat berbuah setelah ditanam, cukup hanya memakan waktu sekitar 2,5 tahun. Setelah itu mulailah memetik hasilnya untuk waktu yang tidak singkat, yang buahnya bisa dipetik secara rutin, yaitu sekali dalam dua minggu.

Proses penjualannya pun tergolong mudah. Setelah bijinya memerah alias menua dan sudah dapat dipetik, kulit kopi kemudian dibuang dengan menggunakan mesin pemintal. Setelah itu dijemur cukup dalam sehari, lantas dijual dan jadi uang. Hanya saja, pun demikian penanaman kopi arabika juga harus menggunakan pupuk dan pestisida mengingat jenis tanaman ini tergolong rentan dengan hama tanaman yang sewaktu-waktu datang menyerang.

Pupuk yang digunakan—kompos —yang dibeli Rp 3.000 per karung atau urea, menentukan kualitas buahnya kelak. Hal itu khususnya terlihat dari volume dan besar kecilnya biji kopi. Sebab kedua hal ini akan berperan penting ketika biji kopi akan dijual nantinya.

Sangat jauh berbeda dengan robusta. Kopi jenis ini terlebih dahulu dikeringkan dalam waktu yang cukup lama setelah dipetik dari pohonnya dan dibuang kulitnya. Hingga warnanya menghitam dan dapat digongseng, digiling hingga halus lalu dikemas dan dijual di pasaran.

Peralihan petani yang lebih dominan menanam kopi arabika ketimbang robusta memang terlihat drastis meningkat hingga sebagian petani menebangi pohon robustanya untuk diganti dengan pohon arabika. Hal inilah yang juga dilakukan Safaruddin Marbun (31) petani di Desa Bintang, Kecamatan Sidikalang pada lahannya seluas 4 rantai sebanyak 500 batang arabika.

“Semula kebun ini ditanami robusta semua. Tapi sejak setahun terakhir saya sudah menggantinya dengan arabika karena pasti lebih diuntungkan. Lagipula, proses penjualannya cepat tidak sepeti robusta yang menunggu waktu cukup lama dulu baru bisa dijual,” katanya. Ia akan memetik buahnya selama setahun lagi.

kopi sidikalangLain halnya dengan Gimhot Marbun (49). Meski sejak tiga tahun terakhir sudah menanam lahannya dengan kopi jenis arabika, tapi ia tidak pernah berniat menebang dan mengganti pohon kopi robusta miliknya walau hanya sedikit.

“Memang harga kopi arabika kini lebih tinggi dibandingkan dengan robusta tapi saya justru melihat bahwa kualitas robusta jauh lebih baik. Karena itu saya yakin ke depan harga robusta akan kembali naik,” katanya sambil mengenang kejayaan petani Dairi dulu.

Kini kopi arabika di pasar internasional dijual seharga 3,2 dollar AS per kilogram, sementara kopi robusta 1,5 dollar AS—hampir separuhnya. Meski demikian, petani seperti Ibu Hutagalung boru Purba (41) pun tak mau tergiur dengan harga itu. Di antara lahan kebunya yang ditumbuhi robusta yang usianya sudah puluhan tahun juga ditanami pohon kopi jebis arabika, meski jumlahnya tak sebanding dengan robusta.

“Memang, saya menanam arabika juga, tapi saya masih tetap mempertahankan robusta karena robustalah yang menghidupi keluarga kami sejak turun temurun dari orang tua sampai sekarang,” ujarnya.

Boru Purba mengaku, hingga kini masih tetap mengandalakan robusta dan memasarkannya langsung kepada pengusaha pengemasan bubuk kopi, seperti Aritonang (Kopi IDA). Dan dalam sebulan, ia masih mampu menjual sekitar 25 -30 kilogram dari kebunnya yang seluas 1 hektar.

Arabika memang telah menjamur, tapi ikon Kopi Sidikalang berasal dari robusta. Akankah ikon itu akan hilang? Antara ya dan tidak. Setidaknya Safaruddin, Gimhot dan Boru Purba mampu memberikan jawaban tentang persoalan itu. *

Liputan Khusus Kopi Sidikalang (Bag. 2)

[arsip Februari 2007: “Nyaris hilang” – Menurunnya jumlah produksi kopi robusta ini menurut beberapa pedagang kopi kemasan mulai membuat petani kopi Sidikalang cemas.

Pasalnya, bahan baku yang mereka gunakan adalah jenis robusta. Tak boleh tidak, sebab itu sudah menjadi cita rasa khas daerah yang barangkali, cita rasa itu juga sudah melekat di lidah para konsumennya. Salah satunya adalah S B Aritonang (50), pengusaha “home industri” kopi Sidikalang dengan merk dagang “IDA” yang sudah memulai usahanya sejak puluhan tahun—sejak tahun 1970-an.

Menurut Aritonang, sungguh wajar jika petani kopi beralih ke jenis arabika dengan latar belakang faktor ekonomi. Tetapi, setidaknya seharusnya ada upaya lain yang menjamin agar kopi jenis robusta tidak hilang dari peredaran dengan cara membudidayakannya kembali.

kopi sidikalang 015Demikian halnya dengan pengusaha lain seperti Ny Sabilah Rasyad Maha, yang juga pengusaha di bidang yang sama. Pengusaha kopi kemasan dengan merek “TANPAK” itu pun mengeluhkan robusta yang kini nyaris hilang. “Bahkan kami sedang megupayakan bagaimana agar robusta dibudidayakan agar nantinya masih tetap bertahan dan mampu mempertahakan citra kopi Sidakalang (Dairi) yang hingga kini sudah dikenal luas,” katanya.

Hanya saja, usaha itu pun tidak segampang yang dipikirkan. Kedua pengusaha itu sendiri tidak memiliki lahan sendiri untuk pembudidayaanya. Sebaliknya, mereka hanya berharap dari animo para petani sendiri. “Itulah kelemahan kami,” ujar Aritonang dan Ny Rasyad—secara terpisah. Lantas, bagaimana jika robusta menjadi barang langka bahkan tidak ada lagi? Apakah Kopi Sidikalang (Dairi) yang namanya sudah dikenal itu juga akan ikut hilang?

Memang pernah terpikir oleh Aritonang untuk tidak berpangku pada robusta saja, tetapi mulai mengupayakan bagaimana agar arabika juga ikut menjadi ikon kopi Sidikalang. Tapi yang terjadi adalah, lagi-lagi terkendala soal teknologi. Memproses arabika tidak semudah memproses robusta menjadi bubuk kopi dengan cita rasa memuaskan bagi konsumen.

Memang, menurut beberapa kalangan, kopi jenis arabika sebenarnya dapat dikemas dan diolah menjadi minuman berkualitas, tapi hingga kini masyarakat sendiri belum pernah terpikir untuk ke sana. Bahkan, juga disinyalir bahwa aneka kopi yang sudah dikemas menjadi kopi dalam ukuran “sachet” yang beredar di pasaran menggunakan bahan baku sejenis kopi arabika, yang tentu saja sudah melalui tahap proses pengolahan yang menggunakan teknologi khusus.

Dikatakan juga bahwa sebenarnya kopi jenis arabika memiliki cita rasa yang nikmat dan tak kalah dengan robusta jika mampu dikelola dengan baik. Nah, masalahya adalah ketidakmampuan masyarakat setempat untuk mengelolanya sedemikian rupa.

“Saya pernah mengolah kopi jenis arabika dan mengemasnya menjadi bubuk, tapi yang terjadi adalah kemasan itu tidak laku di pasaran karena rasanya memang sangat jauh berbeda dengan robusta. Aromanya nyaris tidak terasa samasekali seperti yang dimiliki robusta. Pelanggan tetap memilih robusta, sedang arabika akhirnya saya hentikan pengolahannya karena tidak laku,” kenang Aritonang.

Foto: Kopibrik.com

Foto: Kopibrik.com

Di sisi lain hal itu tidak begitu berpengaruh bagi sebagian kalangan pengusaha dalam skala besar atau agen pengumpul kopi di Dairi, seperti Ny Malau boru Nababan (43) misalnya. “Kami sendiri sebagai pengusaha tidak bisa melarang petani agar mereka menanam kopi robusta, meskipun harganya kini sudah mulai stabil di pasaran,” katanya. “Pasalnya, petani lebih memikirkan sisi keuntungan,” jelasnya.

Ny Malau sendiri, agen pengumpul yang sudah lama menekuni bidangnya itu misalnya, jika dikalkulasikan jumlah volume perbandingan antara kopi jenis robusta dengan arabika yang dipasoknya dalam waktu terakhir, lebih dominan memasok kopi jenis arabika ke luar daerah dibandingkan dengan robusta. Anehnya, ia sendiri tidak tahu untuk apa kopi arabika dipergunakan. “Kami hanya menjualnya saja kepada ekportir ,” katanya.

Hal ini juga merupakan suatu kebutaan di kalangan petani dan pengusaha kopi Dairi, bahwa kenyataanya para petani menanam kopi jenis arabika lalu menjualnya kepada para ekportir tanpa mengetahui lebih jelas manfaat tanaman itu. “Saya sendiri juga tidak tahu pasti untuk apa kopi jenis arabika dimanfaatkan,” ujar Kadis Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Dairi, Aresensius Marbun berkomentar kepada Global. “Tapi yang jelas produksinya yang kian waktu kian meningkat, mengindikasikan bahwa kopi jenis arabika memang potensial di luar negeri,” tambahnya.

Ada anggapan lain berpendapat, kopi arabika dapat dijadikan minuman hanya jika mampu diolah dengan menggunakan teknologi pengolahan khusus dengan cara mengambil zat kafein yang ada didalamnya kemudian mengemasanya kembali menjadi aneka minuman sejenis minuman pemulih stamina. Tapi, “soal itu pun belum dapat dipastikan,” jelas Arsensius. (bag. 3)