Surip Mawardi dan Petani Kopi Indonesia

SuripMawardi-2

Surip Mawardi (kanan) dan Salimin Djohan Wang (kiri)

Surip Mawardi terdiam sejenak lalu melempar senyum ketika ditanya apa tantangan terberatnya ketika membina petani. Sebagai peneliti utama di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao – Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (Puslit Koka – ICCRI) Jember, ia memang kerap terjun ke petani untuk melakukan pembinaan. [Read more…]

Liputan Khusus Kopi Sidikalang (Bag. 1)

[arsip Februari 2007]: Dalam kancah perkopian nasional bahkan internasional, predikat Kopi Sidikalang pernah mencapai masa keemasan. Tak heran pula bahwa kenikmatan kopi robusta itu bahkan pernah secara ekonomis mengangkat harkat masyarakat Dairi sendiri. Tapi, kini kopi robusta nyaris tenggelam akibat gelombang pasar yang tidak menjamin lagi. Akibatnya, petani beralih ke tanaman kopi jenis arabika yang lebih mengutungkan, tapi kualitas beda. [Read more…]

Gani Silaban dan Kopi Lintong

Gani Silaban

Gani Silaban, ketiga dari kanan, bersama petani kopi.

Suatu malam sebelum tidur saya mengungkap-ungkap halaman demi halaman buku karya fotografer potret Indonesia, Edward Tigor Siahaan, berjudul Batak Inspigraph. Ini adalah buku yang menampilkan potret-potret orang Batak inspiratif. Ternyata narasumber saya mengenai kopi yang baru saja saya wawancarai belum lama ini terdapat di buku setebal 354 halaman itu. Dia adalah Gani Silaban, petani kopi yang selama beberapa tahu ini mendapat perhatian publik karena inisiatif dan upayanya mengangkat Kopi Lintong dari Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Humbang Hasundutan. [Read more…]

Ironi Petani Kopi Lintong

Petani Kopi Lintong

Seorang petani kopi Lintong Nihuta menunjukkan kemasan kopi Starbucks yang menggunakan kopi dari daerah Humbahas.

Pekan lalu saya mendapat kesempatan liputan ke Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Menyebut kabupaten dengan ibukota pemerintahan Dolok Sanggul ini terkenal karena komoditas kopinya, yaitu kopi Lintong Ni Huta. Saya pun mendapat banyak informasi mengenai pertanian kopi yang terkenal dengan varieatas arabika itu. Salah satu narasumber yang saya wawancarai ialah Gani Silaban. Berikut salah satu artikel hasil liputan yang diterbitkan di harian Medan Bisnis, edisi Senin 11 Februari 2012. [Read more…]

Liputan Khusus Kopi Sidikalang (Bag. 3)

[arsip Februari 2007]: “Sigarar utang”. Di kalangan petani kopi Sidikalang, Dairi, kopi jenis arabika disebut juga sebagai kopi ateng atau kopi “si garar utang”(si bayar utang). Pemberian nama ini dapat dikatakan merupakan cerminan kebiasaan petani kopi yang menunggu hasil kopi atengnya untuk membayar utang.

kopi sidikalang 015Memang, kopi arabika lebih cepat berbuah setelah ditanam, cukup hanya memakan waktu sekitar 2,5 tahun. Setelah itu mulailah memetik hasilnya untuk waktu yang tidak singkat, yang buahnya bisa dipetik secara rutin, yaitu sekali dalam dua minggu.

Proses penjualannya pun tergolong mudah. Setelah bijinya memerah alias menua dan sudah dapat dipetik, kulit kopi kemudian dibuang dengan menggunakan mesin pemintal. Setelah itu dijemur cukup dalam sehari, lantas dijual dan jadi uang. Hanya saja, pun demikian penanaman kopi arabika juga harus menggunakan pupuk dan pestisida mengingat jenis tanaman ini tergolong rentan dengan hama tanaman yang sewaktu-waktu datang menyerang.

Pupuk yang digunakan—kompos —yang dibeli Rp 3.000 per karung atau urea, menentukan kualitas buahnya kelak. Hal itu khususnya terlihat dari volume dan besar kecilnya biji kopi. Sebab kedua hal ini akan berperan penting ketika biji kopi akan dijual nantinya.

Sangat jauh berbeda dengan robusta. Kopi jenis ini terlebih dahulu dikeringkan dalam waktu yang cukup lama setelah dipetik dari pohonnya dan dibuang kulitnya. Hingga warnanya menghitam dan dapat digongseng, digiling hingga halus lalu dikemas dan dijual di pasaran.

Peralihan petani yang lebih dominan menanam kopi arabika ketimbang robusta memang terlihat drastis meningkat hingga sebagian petani menebangi pohon robustanya untuk diganti dengan pohon arabika. Hal inilah yang juga dilakukan Safaruddin Marbun (31) petani di Desa Bintang, Kecamatan Sidikalang pada lahannya seluas 4 rantai sebanyak 500 batang arabika.

“Semula kebun ini ditanami robusta semua. Tapi sejak setahun terakhir saya sudah menggantinya dengan arabika karena pasti lebih diuntungkan. Lagipula, proses penjualannya cepat tidak sepeti robusta yang menunggu waktu cukup lama dulu baru bisa dijual,” katanya. Ia akan memetik buahnya selama setahun lagi.

kopi sidikalangLain halnya dengan Gimhot Marbun (49). Meski sejak tiga tahun terakhir sudah menanam lahannya dengan kopi jenis arabika, tapi ia tidak pernah berniat menebang dan mengganti pohon kopi robusta miliknya walau hanya sedikit.

“Memang harga kopi arabika kini lebih tinggi dibandingkan dengan robusta tapi saya justru melihat bahwa kualitas robusta jauh lebih baik. Karena itu saya yakin ke depan harga robusta akan kembali naik,” katanya sambil mengenang kejayaan petani Dairi dulu.

Kini kopi arabika di pasar internasional dijual seharga 3,2 dollar AS per kilogram, sementara kopi robusta 1,5 dollar AS—hampir separuhnya. Meski demikian, petani seperti Ibu Hutagalung boru Purba (41) pun tak mau tergiur dengan harga itu. Di antara lahan kebunya yang ditumbuhi robusta yang usianya sudah puluhan tahun juga ditanami pohon kopi jebis arabika, meski jumlahnya tak sebanding dengan robusta.

“Memang, saya menanam arabika juga, tapi saya masih tetap mempertahankan robusta karena robustalah yang menghidupi keluarga kami sejak turun temurun dari orang tua sampai sekarang,” ujarnya.

Boru Purba mengaku, hingga kini masih tetap mengandalakan robusta dan memasarkannya langsung kepada pengusaha pengemasan bubuk kopi, seperti Aritonang (Kopi IDA). Dan dalam sebulan, ia masih mampu menjual sekitar 25 -30 kilogram dari kebunnya yang seluas 1 hektar.

Arabika memang telah menjamur, tapi ikon Kopi Sidikalang berasal dari robusta. Akankah ikon itu akan hilang? Antara ya dan tidak. Setidaknya Safaruddin, Gimhot dan Boru Purba mampu memberikan jawaban tentang persoalan itu. *

Liputan Khusus Kopi Sidikalang (Bag. 2)

[arsip Februari 2007: “Nyaris hilang” – Menurunnya jumlah produksi kopi robusta ini menurut beberapa pedagang kopi kemasan mulai membuat petani kopi Sidikalang cemas.

Pasalnya, bahan baku yang mereka gunakan adalah jenis robusta. Tak boleh tidak, sebab itu sudah menjadi cita rasa khas daerah yang barangkali, cita rasa itu juga sudah melekat di lidah para konsumennya. Salah satunya adalah S B Aritonang (50), pengusaha “home industri” kopi Sidikalang dengan merk dagang “IDA” yang sudah memulai usahanya sejak puluhan tahun—sejak tahun 1970-an.

Menurut Aritonang, sungguh wajar jika petani kopi beralih ke jenis arabika dengan latar belakang faktor ekonomi. Tetapi, setidaknya seharusnya ada upaya lain yang menjamin agar kopi jenis robusta tidak hilang dari peredaran dengan cara membudidayakannya kembali.

kopi sidikalang 015Demikian halnya dengan pengusaha lain seperti Ny Sabilah Rasyad Maha, yang juga pengusaha di bidang yang sama. Pengusaha kopi kemasan dengan merek “TANPAK” itu pun mengeluhkan robusta yang kini nyaris hilang. “Bahkan kami sedang megupayakan bagaimana agar robusta dibudidayakan agar nantinya masih tetap bertahan dan mampu mempertahakan citra kopi Sidakalang (Dairi) yang hingga kini sudah dikenal luas,” katanya.

Hanya saja, usaha itu pun tidak segampang yang dipikirkan. Kedua pengusaha itu sendiri tidak memiliki lahan sendiri untuk pembudidayaanya. Sebaliknya, mereka hanya berharap dari animo para petani sendiri. “Itulah kelemahan kami,” ujar Aritonang dan Ny Rasyad—secara terpisah. Lantas, bagaimana jika robusta menjadi barang langka bahkan tidak ada lagi? Apakah Kopi Sidikalang (Dairi) yang namanya sudah dikenal itu juga akan ikut hilang?

Memang pernah terpikir oleh Aritonang untuk tidak berpangku pada robusta saja, tetapi mulai mengupayakan bagaimana agar arabika juga ikut menjadi ikon kopi Sidikalang. Tapi yang terjadi adalah, lagi-lagi terkendala soal teknologi. Memproses arabika tidak semudah memproses robusta menjadi bubuk kopi dengan cita rasa memuaskan bagi konsumen.

Memang, menurut beberapa kalangan, kopi jenis arabika sebenarnya dapat dikemas dan diolah menjadi minuman berkualitas, tapi hingga kini masyarakat sendiri belum pernah terpikir untuk ke sana. Bahkan, juga disinyalir bahwa aneka kopi yang sudah dikemas menjadi kopi dalam ukuran “sachet” yang beredar di pasaran menggunakan bahan baku sejenis kopi arabika, yang tentu saja sudah melalui tahap proses pengolahan yang menggunakan teknologi khusus.

Dikatakan juga bahwa sebenarnya kopi jenis arabika memiliki cita rasa yang nikmat dan tak kalah dengan robusta jika mampu dikelola dengan baik. Nah, masalahya adalah ketidakmampuan masyarakat setempat untuk mengelolanya sedemikian rupa.

“Saya pernah mengolah kopi jenis arabika dan mengemasnya menjadi bubuk, tapi yang terjadi adalah kemasan itu tidak laku di pasaran karena rasanya memang sangat jauh berbeda dengan robusta. Aromanya nyaris tidak terasa samasekali seperti yang dimiliki robusta. Pelanggan tetap memilih robusta, sedang arabika akhirnya saya hentikan pengolahannya karena tidak laku,” kenang Aritonang.

Foto: Kopibrik.com

Foto: Kopibrik.com

Di sisi lain hal itu tidak begitu berpengaruh bagi sebagian kalangan pengusaha dalam skala besar atau agen pengumpul kopi di Dairi, seperti Ny Malau boru Nababan (43) misalnya. “Kami sendiri sebagai pengusaha tidak bisa melarang petani agar mereka menanam kopi robusta, meskipun harganya kini sudah mulai stabil di pasaran,” katanya. “Pasalnya, petani lebih memikirkan sisi keuntungan,” jelasnya.

Ny Malau sendiri, agen pengumpul yang sudah lama menekuni bidangnya itu misalnya, jika dikalkulasikan jumlah volume perbandingan antara kopi jenis robusta dengan arabika yang dipasoknya dalam waktu terakhir, lebih dominan memasok kopi jenis arabika ke luar daerah dibandingkan dengan robusta. Anehnya, ia sendiri tidak tahu untuk apa kopi arabika dipergunakan. “Kami hanya menjualnya saja kepada ekportir ,” katanya.

Hal ini juga merupakan suatu kebutaan di kalangan petani dan pengusaha kopi Dairi, bahwa kenyataanya para petani menanam kopi jenis arabika lalu menjualnya kepada para ekportir tanpa mengetahui lebih jelas manfaat tanaman itu. “Saya sendiri juga tidak tahu pasti untuk apa kopi jenis arabika dimanfaatkan,” ujar Kadis Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Dairi, Aresensius Marbun berkomentar kepada Global. “Tapi yang jelas produksinya yang kian waktu kian meningkat, mengindikasikan bahwa kopi jenis arabika memang potensial di luar negeri,” tambahnya.

Ada anggapan lain berpendapat, kopi arabika dapat dijadikan minuman hanya jika mampu diolah dengan menggunakan teknologi pengolahan khusus dengan cara mengambil zat kafein yang ada didalamnya kemudian mengemasanya kembali menjadi aneka minuman sejenis minuman pemulih stamina. Tapi, “soal itu pun belum dapat dipastikan,” jelas Arsensius. (bag. 3)